Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Peringatan Hari Merdeka tahun ini diperingati oleh seluruh civitas akademika SMAK 1 PENABUR Jakarta dengan Upacara Bendera tepat pada tanggal 17 Agustus 2017 di lapangan SMAK 1. Pagi-pagi seluruh siswa dan Bapak/Ibu guru berbaris rapi di lapangan sesuai instruksi dan upacara berlangsung tertib dan khidmat.

Yang unik pada upacara bendera kali ini adalah pembina dan para petugas upacara yang berbeda dari yang biasa. Biasanya, pembina upacara bendera adalah kepala sekolah atau pun guru. Akan tetapi, pada kesempatan ini, SMAK 1 mendapat kehormatan dibina oleh Kol. TNI AD (Purn) H. Sutjipto, SH, SPn. yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Legiun Veteran Jakarta Barat. Bapak Sutjipto dan Ibu juga datang pagi-pagi untuk menghadiri upacara. Petugas upacara adalah Bapak dan Ibu guru yang sudah berlatih sehari sebelumnya. Selain itu, hadir juga beberapa orang tua siswa mengikuti upacara bendera kali ini.

Dengan hadirnya Pak Sutjipto memberikan wejangan dari pahlawan yang sebenarnya pada saat upacara, diharapkan seluruh siswa dapat lebih semangat dalam berjuang melakukan yang di bangku sekolah dan dalam membangun negara Indonesia.

Di awal amanatnya, Pak Sutjipto mengobarkan semangat para siswa dengan meneriakkan ‘MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA! Beberapa hal yang dibagikan oleh Pak Sutjipto adalah beberapa nilai-nilai kehidupan yang harus dicontoh dari para pahlawan, yaitu nilai-nilai perjuangan ’45 : berani, semangat, tanpa pamrih, ikhlas, dan rela berkorban demi tanah air tercinta. Di masa lampau para pahlawan membela negara Indonesia melawan penjajah dengan gigih berani dan semangat walaupun tanpa teknologi, hanya menggunakan bambu runcing. Akan tetapi, karena memiliki jiwa yang rela berkorban demi tanah air tercinta, mereka tetap melawan. Hal tersebut pasti susah dinalar dan digagas oleh para pemuda jaman sekarang, tetapi terbukti bahwa Indonesia bisa merdeka.

Oleh karena itu, dalam era modern ini, diharapkan para pemuda mau berjuang membangun negara, salah satunya adalah melawan kemiskinan dan ketidakadilan. Pak Sutjipto juga mengingatkan bahwa Tuhan tidak tidur. Jika ingin menjadi pemimpin yang baik, harus belajar yang baik, bertingkah laku dan berbudi baik, serta beramal ibadah sesuai dengan agama masing-masing.

Memang pada kenyataannya ada pemimpin yang tidak mengamalkan nilai-nilai perjuangan tersebut, dan hasilnya adalah pemimpin yang tidak baik.

Pemimpin tidak hanya dilahirkan, tetapi juga dibentuk; dibentuk di rumah tangga dan di sekolah. Oleh karena itu, Pak Sutjipto mengharapkan pemerintah membuat kurikulum sedemikian rupa sehingga pembentukan intelektual dan karakter siswa seimbang.

Pada kesempatan ini Pak Sutjipto juga menjelaskan sekilas mengenai gelar kehormatan veteran. Veteran adalah gelar kehormatan yang diberikan kepada warga negara yang ikut melaksanakan perjuangan melawan negara lain yang menjajah Indonesia.

Ada lima (5) kelompok veteran di Indonesia:

1. Veteran melawan penjajah Belanda

2. Veteran melawan penjajah Belanda merebut Irian Barat

3. Veteran Dwikora yang melawan konfrontasi Malaysia dan Inggris di perbatasan

4. Veteran Timor-Timur

5. Veteran perdamaian internasional, yakni pasukan Garuda yang melaksanakan misi dibawah bendera PBB.

Pada dasarnya, penghargaan yang diberikan kepada para veteran oleh negara adalah hak mendapatkan materi, kemudahan-kemudahan, dan pemakaman di Taman Makam Pahlawan. Sedangkan kewajibannya adalah menyampaikan pesan-pesan perjuangan kepada rakyat Indonesia.

Ciri-ciri veteran Indonesia adalah seragam safari hijau dan lencana di sebelah kiri serta topi peci kuning yang diberikan oleh negara. Dengan demikian, para veteran mudah dikenali oleh siapa saja, sehingga diharapkan masyarakat dapat memberi penghargaan kepada para veteran tersebut jika bertemu. Akan tetapi, ada beberapa oknum yang menyalahgunakan seragam dan lencana, serta topi tersebut untuk hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang veteran. Jika hal tersebut ditemukan, diharapkan masyarakat dapat mengadukannya ke Dewan Pimpinan Cabang terdekat, misalnya di wilayah Jakarta Barat di KODIM 05/03 JB.

Setelah rangkaian upacara selesai, Pak Sutjipto meninggalkan podium dan menyalami pemimpin upacara. (RS)